Selasa, 17 Januari 2017

Kerisauan


Malang, Maret 2016 

Dikala mata ini beradu di depan cermin,
Aku melihat raut yang begitu dirindukan.
Wajah itu penuh dengan tawa- tawa ceria.
Lelah dan sedih
membawaku pada kenangan-kenangan
yang terbenam di masa itu.
Aku menemukan diri itu bermain-main,
berlari- lari kecil, bergembira, tertawa- tawa,
menertawai atas apa yang tercaci, dan
hati yang tak pernah membenci.

Lalu hari ini,
Wajah itu tak lagi penuh dengan tawa.
Kerisauan dan air mata begitu menyelimutinya.
Waktu begitu cepat berlalu, terbuang dan terlupa,
hanya untuk menunggu, berharap, dan menunggu.

Dia yang memberi kerisauan.
Pahamilah, ini bukan lagi soal kesabaran.
Aku pun tak mau mendengar jika kesibukan menjadi alasan.
Karena akulah bagian dari kewajiban.
Tolonglah, ini lebih ke soal masa depan.

Waktu akan terus berlalu,
Sementara aku disini dengan apa yang kulakukan,
Dan dia dengan apa yang ia lakukan.
Apa seharusnya kita layak dipertemukan?
Tetapi ada keharusan yang membuat ini berjalan.
Namun, seperti hati ini tak lagi seiring berjalan,
Pada siapa saja yang memberi pengharapan.

Manusia tetaplah manusia,
Hatinya bisa berubah-ubah,
Dengan kekuasaan-Nya.
Aku tak ingin lagi berharap pada manusia.

Harapanku hanya ada pada-Nya.

piok_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar